Jumat, 30 Desember 2011

KELUARGA KUDUS

Di saat merayakan Pesta Keluarga Kudus, saya membayangkan kalau seandainya saya adalah santu Yosef. Perasaan apa yang dialami Yosef pada saat Herodes mencari bayi yang telah diramalkan akan menjadi penguasa Israel itu. Malam hari setelah lelah mengerjakan kegiatan sehari-hari dan menerima para tamu, kita pasti akan merasa lelah dan tertidur pulas. Pasti demikian pula halnya yang terjadi dengan Yosef yang sibuk di siang hari menerima kunjungan para gembala serta para tamu agung sang Majus dari Timur. Dan dalam mimpi, Yosef melihat seorang pemuda tersenyum dengan wajah penuh kedamaian. Ia pasti merasa begitu tertarik kepada pemuda itu dan merasa begitu damai dalam hati. Namun pertemuan dalam mimpi serta kedamaian yang dialaminya itu merupakan awal dari petualangannya bersama Maria dan bayi Yesus.
".... nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: 'Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.'. Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir..." (Mat 2: 13--14).
Bila malaikat itu menampakan diri kepadaku, apa kira-kira pertanyaan
yang kemudian muncul dalam pikiranku? Mempertanyakan diri sendiri apakah aku berhalusinasi? Apa itu benar pesan dari malaikat atau hanya imajinasiku belaka? Kalau aku mengikuti pesan itu, apa yang akan menjadi resikonya? Bagaimana kalau aku tertangkap di tengah jalan oleh pasukan Herodes? Lalu, apakah ada untungnya mengambil resiko sebesar itu untuk seorang anak yang bukan dari darah dagingku sendiri? Mengapa Yosef rela untuk berhadapan dengan culture shock di tempat asing di Mesir? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul di benakku.
Bila keputusan Yosef diukur menurut jalan pikiran kita di masa sekarang, sepertinya Yosef itu orang yang sangat lugu dan tidak rasional. Boleh dikatakan Yosef adalah seorang yang teramat bodoh. Ia bodoh karena melindungi seorang anak yang bukan miliknya. Ia bodoh karena telah menjaga seorang Maria yang bukan isterinya. Apa yang telah menggerakkan hatinya untuk melindungi Maria dan Yesus dengan seluruh jiwanya?
Aku kira justru kebodohan Yosef inilah yang merupakan kelebihannya, yang telah menjadikannya besar. Yosef rela menjadi bodoh karena ia tahu sesuatu, yakni keterlibatan Allah dalam dirinya. Kekuatan iman Yosef sungguh melebihi keterbatasannya sebagai manusia. Iman yang sanggup membuat dia mampu berpasrah diri dan menyerah total pada penyelenggaraan Tuhan. Keyakinan Yosef yang begitu besar mampu memahami rencana Tuhanlah yang terbaik untuk dirinya, walaupun logika manusianya tidak bisa memperkirakan jalan pikiran Tuhan.
Keluarga Yosef, Maria, dan Yesus disebut sebagai keluarga kudus. Kudus karena masing-masing pribadi dalam keluarga itu telah menyediakan dirinya untuk menjadi alat yang dipakai dalam terselenggaranya rencana Tuhan. Kita sebagai anggota keluarga Katolik di masa sekarang ini mungkin bisa bercermin dari pribadi-pribadi dari keluarga Kudus itu. Mungkin banyak tantangan yang harus kita jalani dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi alangkah baiknya bila kita tetap menyerahkan diri dan keluarga kita ke dalam tangan Tuhan dan menjadi perpanjangan tangan-Nya di manapun kita berada. Kita mungkin bisa juga belajar dari keluarga Kudus ini untuk berjalan dengan kacamata iman, karena Tuhan bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat di masa depan, dan segala rencanaNya melebihi akal dan pikiran kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Video - Album Foto

Entri Populer